Apple OS-X mengalahkan Linux pasaran desktop (?)

Minggu ini ada artikel menarik dari Chris Howard (applematters.com) yang mengemukakan pendapat bahwa Apple OS-X bisa mengalahkan Linux sebagai operating system untuk komputer desktop.

Klaim ini memang didasarkan angka-angka statistik adopsi OS-X dalam dunia korporat:

  • Persentase penggunaan OS-X selama dua tahun terakhir menanjak dari 4.21% (Januari 2006) mencapai 7.31% (Desember 2007)
  • Sedangkan dalam jangka waktu sama, persentase adopsi Linux naik 0.29% ke 0.63%.

Belum lagi Apple OS-X banyak memiliki aplikasi-aplikasi, seperti dari Adobe (Photoshop, Ilustrator, dsb) dan terakhir ini dari Microsoft (Mac Office 2008 dan dulu 2004).

Seperti sudah saya utarakan dalam blog sebelumnya, dalam korporat IT masalah Service & Support (S&S) itu penting sekali. Malah, bagi para CIO anggaran keuangan untuk S&S selalu lebih besar dibanding anggaran beli hardware/software. Kalau komputer atau network mengalami downtime, yang mendapat hukuman (dalam bentuk potongan gaji atau bonus) adalah pihak kelompok IT.

Ini kekurangannya Linux: tidak ada Service & Support yang memadai. Para administrator IT tidak punya waktu untuk utak-utik operating system atau aplikasi (ex. kernel debug, recompile, add driver, dsb. dsb). Bagi administrator IT lebih mudah angkat telepon dan mengajukan Service Ticket kepada pihak penerbit software. Kemudian pihak penerbit diberi waktu beberapa jam (ex. 24 jam) untuk mencari resolusi. Mungkin dalam bentuk patch atau install (build) yang baru. Kalau pihak penerbit gagal mencari resolusi, kontrak S&S otomatis berakhir (terminated), software dikembalikan (dan administrator IT tidak akan pernah membeli software dari penerbit itu lagi). End of relationship, don’t bother calling us again.

Memang kedengarannya brutal, tetapi begitulah kenyataan hidup dalam dunia software bagi korporat IT.

Iklan

Akhirnya muncul juga: Office Mac 2008

Awal Januari ini banyak yang sudah yang menunggu munculnya Microsoft Office untuk Apple Macintosh (versi 2008). Edisi yang terakhir sudah cukup kuno (versi 2004). Targetnya adalah untuk komputer Macintosh yang menggunakan processor Intel yang baru dan processor PowerPC yang dulu.

Apple Macintosh banyak sekali digunakan dalam industri media dan desain di AS. Mungkin karena user interface lebih menarik bagi orang-orang dunia kreatif. Mungkin juga karena banyak software-software yang penting bagi mereka (seperti Photoshop, Ilustrator, Quark Express, dsb) mendapat prioritas penting dalam perusahaan2 penerbit software itu. Dunia media dan desain merupakan suatu niche market yang cukup setia kepada Apple.

Realitasnya bagi banyak design shop kecil s/d medium, kurangnya aplikasi bisnis (seperti Microsoft Office) selama ini cukup merepotkan. Sering kali untuk menulis dokumen (word processing) harus menggunakan komputer khusus Windows atau Linux (ex. Star Office). Belum lagi sang IT administrator harus faham Mac dan Windows.

Dengan munculnya Office Mac 2008 diharapkan banyak perusahaan desain yang akan upgrade atau beli baru versi 2008 ini. Investasi hardware tetap sama (Apple), produktivitas meninggi karena pekerja bisa menggunakan komputer yang sama untuk aplikasi bisnis.

Its about time…

Telecommuting di Indonesia

Beberapa hari belakangan ini di milis Telematika@yahoogroups ada diskusi mengenai Ring Palapa, yaitu rencana pembangunan backbone Internet di Indonesia. Menurut rencana, akan di bangun jalur Serat Optik (Fiber Optic) yang akan menghubung berbagai kepulauan di Indonesia.

Salah satu aspek dari diskusi infrastruktur ini adalah mengenai Telecommuting. Artinya: kerja dari rumah atau “off-site” (lokasi lain). Dengan bertambah macetnya jalan-jalan di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung, perlu di tinjau kemungkinan bekerja secara Telecommuting. Jelas bahwa telecommuting belum tentu cocok bagi setiap jenis pekerjaan. Kalau jenis pekerjaannya memerlukan hubungan face-to-face (F2F) maka telecommuting tidak sesuai.

Agar telecommuting bisa berjalan lancar diperlukan koneksi Internet yang memadai. Apa yang dimaksud dengan “memadai” ?

Dari pengalaman pribadi, kecepatan Internet minimal harus cukup untuk berikut ini (minimum requirements):

  1. Slide sharing: para anggota pertemuan bisa melihat presentasi visual secara bersamaan. Contoh yang umum di pakai di AS adalah Webex (www.webex.com).
  2. Voice: kalau kebetulan tidak ada nomor bebas-toll (toll-free 800) atau tidak ada ponsel, harus bisa menggunakan aplikasi VOIP seperti Skype (ie. skype tanpa video cukup).
  3. Email: selagi pertemuan berlangsung, para anggota harus bisa menerima email (mungkin file2 yang sedang di bahas).

Ada perusshaan “tech” di AS yang akan mengijinkan pekerjanya untuk telecommuting kalau kebutuhan minimal diatas terpenuhi. Malah banyak yang bersedia membayar biaya CableModem/ADSL dan laser printer (multi-purpose dgn photocopier). Malah ada yang mau membelikan PDA dengan GPRS/EDGE demi kebutuhan (2) dan (3). Saat ini slide sharing (1) masih paling mudah melalui web-browser, dan masih sulit melalui PDA/cellphone.

Kecepatan Pelayanan Internet: lokal dan ke Jakarta

Belakangan ini saya sering mendapat “iklan sampah” (junk mail) mengenai jasa pelayanan Internet kecepatan tinggi. Rupanya ATT sedang ingin menggeser ComCast dalam pemberian jasa Internet di daerah Silicon Valley. Keduanya selalu saja “membual” soal daya kecepatan servis Internet masing-masing 🙂

Iseng-iseng saya cari online tool yang bisa memberikan gambaran berapa kecepatan koneksi CableModem yang saat ini dari ComCast.com. Ada dua situs test yang cukup menarik, yaitu myspeed.visualware.com dan www.speedtest.net.

Test yang pertama dengan www.visualware.com hanya mencakup jarak dekat, yaitu dengan server yang lokasinya di San Jose. Hasilnya 570Kbps (download) dan 1.5Mbps (upload). Sebenarnya agak tidak sesuai dengan pemasaran/marketing dari ComCast, yaitu jasa CableModem. Tapi, yach begitulah jasa ISP …:)

Test kedua dengan speedtest.com adalah dengan suatu server di Jakarta. Kecepatan download kira-kira 150 Kbps dan upload 220 s/d 330 Kbps. Kurang tahu server jenis apa yang ada di Jakarta (katanya milik biznetworks.com). Silahkan coba sendiri 🙂

 

Repotnya mengganti Hard Drive di Mac iBook

Bagi orang yang memiliki laptop buatan Apple, mungkin sudah tahu mengenai repotnya mengganti hard drive. Dari dulu saya ingin mengganti hard drive iBook saya karena kapasitasnya kecil. Setelah tanya ke Apple store dan toko repair Apple, katanya laptopnya harus diserahkan (kira-kira 3 hari) dan biaya bisa sampai $60 (tidak termasuk harga hard drive baru).

Lebih ngeri lagi, hard drive yang lama tidak dikembalikan kepada kita. Artikel ini juga menceritakan hal yang sama.

OK, saya pikir: how hard can this be? Kan hanya hard drive. Kalau pada laptop ThinkPad mengganti hard drive hanya perlu buka 1 sekrup. Kalau pada laptop Dell Latitude hanya 2 sekrup. Paling-paling memakan waktu 1 menit.

Surprise, surprise: mengganti hard drive iBook luar biasa repot sekali. Untuk mencapai hard drive fisik, harus membongkar laptop. Keyboard harus diangkat. Terus Airport card di cabut. Memory/RAM cover di cabut. Terus laptop di balik. Lalu undercover di lepas. CD drive di lepas. Kabel2 di lepas. Dst dst dst. Edaan…. Kira-kira 20 plus sekrup harus dilepas. Pantas saja toko repair Apple minta $60 per jam. Dengar-dengan sama repotnya dalam hal laptop MacBookPro.

Kalau perusahaan Apple memang ingin seri laptopnya di gunakan dalam dunia Korporat/Enterprise, desain lokasi hard drive perlu di perbaiki. Kebanyakan personel IT sudah menyiapkan “Gold Image” dari OS dan Aplikasi2 korporat dalam hard drive yang lepas. Jadi ketika memesan laptop baru (ex. untuk pekerja baru), hard drive dari pabrik tinggal dilepas dan diganti dengan hard drive yang sudah di persiapkan. Laptop siap dipakai dalam 1 menit. Para personel IT tidak bisa membuang waktu 1 jam lebih per laptop hanya untuk mengganti hard drive.

Why I’m feeling Blue: Blu-Ray atau HD-DVD

Pada akhir tahun di AS ini satu topik yang sering muncul di media adalah tingkat pembelian hardware Hi Definition (HiDef) player Blu-Ray Disc (BD) and HD-DVD. Yang menjadi isu adalah tingkat adopsi kedua teknologi ini pada saat “sale season” ini, dimana harga-harga hardware di diskon besar sekali. Sebagai contoh, toko retail besar Circuit City dan Best Buy menjual player seharga kira-kira $250. Harga ini lumayan murah sebab ada player sudah di diskon 50%. Padahal teknologi ini baru dipasarkan kira-kira setahun lebih.

Yang menjadi masalah juga adalah kekacauan di pikiran pihak konsumen (customer confusion). Kebanyakan konsumen di AS masih bingung mengenai Televisi HiDef: Plasma atau LCD, 1080i vs 1080p, upconvert ke 1080i, dsbnya. Terus sekarang ditambah lagi istilah-istilah seperti Blu-Ray, HD-DVD, Standard DVD, Full HD, dsbnya. No wonder 😦

Ada data-data dari “pertempuran format” Blu-Ray vs HD-DVD ini:

  • Di Eropa jumlah Blu-Ray disk yang terjual baru saja melewati 1 juta disk, yaitu 73% jumlah total disk film/movie HiDef. Yang 27% lainnya adalah HD-DVD.
  • Kalau dihitung jumlah Game Disc yang terjual, Blu-Ray sudah laku 21 juta disk. Ini disebabkan karena game console Playstation 3 menggunakan format Blu-Ray.
  • Di AS jumlah disk HiDef yang terjual (BD dan HD-DVD) adalah 2% dari total film/movie disk. Jadi 98% di AS masih menggunakan Standard DVD yang lama/umum saat ini.
  • Di AS jumlah HiDef player terjual adalah Blu-Ray 2.7 juta unit dan HD-DVD 750,000 unit. Angka Blu-Ray ini termasuk kira-kira 2 juta unit Playstation3.

Kalau begini sich tunggu-tunggu saja deh. Andaikan saja player2 yang dual format (seperti Samsung dan LG) bisa semurah single-format player, mungkin saja lebih banyak orang yang membeli.

Software Radio chipset baru Intel: WiMax, WiFi dan DVB-H

Minggu ini Intel mengumumkan demo suatu chip baru yang berfungsi atas dasar konsep software radio.

Chip ini dapat meng-handle WiFi (802.11), WiMax (802.16) dan DVB-H. Kapabilitas yang terakhir ini adalah untuk memproses content dalam format standard DVB-H (Digital Video Broadcasting – Handheld). DVB-H adalah standard untuk konten TV yang digunakan di Eropa.

Konsep dari Intel adalah mobilitas konten, dimana pemakai dapat menerima packet konten (ex. di laptop) melalui sarana Wireless Broadband (WiMax) ketika sedang jalan-jalan dan melalui sarana WiFi kalau sedang statis (ex. dirumah). Dengan menggunakan 1 chip diharapkan bahwa form factor ukuran akan lebih kecil dibandingkan dengan 2 atau 3 chip radio.

IMHO, jelas ini bagian dari strategi Intel dalam dunia WiMax. Intel Capital sudah menanamkan lebih dari $600 juta untuk pemain-pemain dunia WiMax. Tetapi, hal yang menarik adalah support untuk DVB-H dalam chip mobile ini. Jelas Intel memiliki keinginan strategis untuk memegang peran penting dalam dunia konten.